• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Rapid Test Corona Saat Puasa Apa Hukumnya? Ini kata Ustad Yuda

Jumat, 24 April 2020 | 15:50 WIB
Ustad Yuda Abdurrahman. Foto : Dok Pribadi
Loading...

Klikbabel.com, Pangkalpinang - Bulan ramadan ini masyarakat Kota Pangkalpinang juga dihadapkan dengan pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Bagi mereka orang yang baru saja pulang ke Bangka Belitung sejak dibukanya Pelabuhan Tanjung kalian Muntok, tentunya automatis menjadi Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang wajib menjalani rapid test. Lalu bagaimana hukumnya ketika seorang muslim menjalani rapid test ketika berpuasa.

Menurut Ustad Yuda Abdurahman yang merupakan salah satu tokoh agama di Kota Pangkalpinang kepada Klikbabel.com menjelaskan, hukum rapid test diqiaskan (dianalogikan) dengan berbekam, yakni mengeluarkan darah.

"Berbekam menurut jumhur (mayoritas-red) ulama, tidak membatalkan puasa, ini pendapat madzhab Syafi'i, Maliki, Hanafi. Adapun menurut pendapat madzhab Hambali, membatalkan puasa. Karena masyarakat Indonesia bermazhab Syafi'i, maka kita ikut ketentuan madzhab Syafi'i yang tidak menganggapnya batal," ujar Ustad Yuda, Jumat (24/4/2020).

Dikatakannya, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari pada bab, 'Bekam dan Muntah bagi orang yang berpuasa'.

[Hadits pertama]

Diriwayatkan dari Al Hasan dari beberapa sahabat secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Beliau berkata, “Orang yang melakukan bekam dan yang dibekam batal puasanya.”

[Hadits Kedua]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berihrom dan berpuasa.

[Hadits Ketiga]

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.”
Ketiga riwayat di atas adalah riwayat yang shohih.

Pada Hadits pertama, Nabi shalallahu alaihi wasallam menganggap batal puasa orang yang berbekam dan dibekam, namun para ulama menganggap bahwa hadits pertama telah dimansukh (dihapus) dengan hadits kedua yang mana Nabi shalallahu alaihi wasallam sendiri berbekam ketika puasa. Para ulama juga berpendapat bahwa maknanya adalah jika sebab berbekam dapat melemahkan fisik orang yang berpuasa, maka puasanya batal, sebagaimana dijelaskan pada hadits ketiga.

Maka jelaslah bahwa berbekam, termasuk rapid test bagi ODP dengan cara mengeluarkan darah dari ujung jarinya, tidaklah membatalkan puasa, hanya sebatas Makruh.

Sambungnya, dengan adanya perbedaan cara dalam mengambil darah untuk pasien ODP di RSUD maupun di Laboratorium yaitu melalui pembuluh darah vena, maka hukumnya pun diperinci, sebab dirinya tidak tahu secara pasti bagaimana teknisnya, dan hukum ini juga berlaku bagi infus/injekasi dan donor darah.

"Hukum memasukkan jarum suntik bagi orang yang berpuasa adalah diperbolehkan sebab adanya darurat, akan tetapi para ulama berbeda pendapat mengenai batalnya puasa menjadi tigapendapat," tukasnya.

1. Pendapat pertama, membatalkan puasa secara mutlak, sebab sampai kepada rongga tubuh.
2. Pendapat kedua, tidak membatalkan secara mutlak. Sebab sampai kepada rongga tubuh yang tidak terbuka.
3. Pendapat ketiga, diperinci hukumnya, dan ini merupakan pendapat yang paling benar (qoul asoh).
Jika mengandung nutrisi penguat seperti infus, maka membatalkan puasa, jika tidak maka harus diperhatikan beberapa hal:

- Jika dimasukkan melalui urat yang berongga (nadi), yakni pembuluh darah Vena, maka membatalkan puasa.
- Jika dimasukkan melalui selain pembuluh darah Vena, yakni melalui otot, maka tidak membatalkan puasa.

"Maka kami kembalikan hukumnya kepada para Dokter dan tim medis yang lebih mengetahui secara detail teknis pelaksanaan. Allahu A'lam," tandasnya.

Refrensi:
- At-Taqriroot As-Sadiidah, Hal. 402
- Syarah Fath Al-Qorib, hal. 71
- al-Fiqhu al-Manhaji, jilid 1, hal. 342.
- Fathul Baari, jilid 4, hal. 208

Loading...
loading...


Penulis  : cepimarlianto
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com