• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Dimana Idealisme Mahasiswa?

Sabtu, 19 Januari 2019 | 09:58 WIB
Wico Hardiansyah, Mahasiswa IAIN SAS Bangka Belitung. Foto : Dok Pribadi
Loading...

Idealisme dan pergerakan seorang mahasiswa telah dikuatkan cara mainnya dalam peristiwa 1998. Lebih jauh lagi pemuda dan pemudi mandiri dalam mengumandangkan hak bersuaranya dengan lantang menyebutkan sumpah pemuda pada 28 oktober 1928. Dirasakan dalam beberapa tahun ini, peristiwa yang nampak dulu seakan menjadi sejarah yang tiada terulang kembali, ada yang mencoba membangkitkanya namun apa daya ketidakmiripan dalam aksi dan hujatan dimana mana menenggelamkan semangat dalam beridealisme dan pergerakan mahasiswa.

Apakah api dalam mahasiswa sudah padam? atau mereka semua berada didalam bawah tanah merancang apa yang mesti dilakukan? dan ataukah negara kita aman-aman saja karena itu tiada aksi lagi dari kaum yang paling idealisme ini, yaitu Mahasiswa. Kembali lagi kita membuka tabir perjalanan indonesia yang telah lama pendewasaanya, dan ingat, semakin dewasa seseorang semakin tingkahnya seperti anak kecil, begitu pula dengan Indonesia. Siapa yang menganak kecilkan sifat bangsa kita? kita sendiri, dengan kepentingan, kekuasaan, serta menutup kebebasan orang dalam berpendapat.

Mahasiswa sebagai agen perubahan. Sebagai pemegang Tri Bakti Perguruan Tinggi. Yaitu Pendidikan Penelitian serta pengabdian, tiada kata nanti tiada kata tidak bisa, mahasiswa harus mencoba itu. Mencoba untuk mengasah akademika. Mengasah kemampuan penelitian dilingkup masyarakat. Barulah mengaplikasikan kemampuan akademiknya selama dia berproses di kampus, membawa hasil penelitianya yang berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun ke ranah masyarakat dengan cara mengabdi kepada masyarakat bukan mengharapkan kepada masyarakat dengan mencoba menembus jalur yang ia dapat selama berproses di dunia pergerakan dengan mengambil kursi-kursi yang nyaman dan melupakan tri bakti yang dulu dia tanamkan dalam dirinya.

Cara mahasiswa lebih padat lugas dan tidak bertele tele, berkonsolidasi tak dapat kejelasan mereka membuat panggung lebih luas dalam mencari solusi, seperti itupun tidak bisa ada panggung yang lebih luas lagi, turun kejalan. Mahasiswa seolah-olah yakin atas tindakan yang dilakukan, mahasiswa yakin meningglakan kelas teruntuk meneriakan atas suara rakyat yang tidak di dengar petinggi petinggi ini, satu dua hari berlalu, aksi terus berlanjut. Absen absen kelas ditinggalkan kewajiban dalam mengampu pendidikan dilalaikan, ada yang menyebutkan, belajar itu tidaklah semestinya di dalam ruangan kelas. Namun apa daya, selepas aksi yang notabene tidak tentu mendapatkan hasil, tidak ada pula tindak lanjut yang dilakukan.

Tapi itulah hebatnya mahasiswa, mereka rela mereka ikhlas demi rakyat, mereka ikhlas juga menerima apa yang diberikan petinggi teruntuk mengecilkan volume toa yang seharusnya di atur sekencang kencang mungkin, tapi ada beberapa mahasiswa serta aktivis yang menolak mentah mentah, mereka mengatakan yang salah itu memang salah, dan yang benar itu memanglah seharusnya benar. Dalam dasarnya seorang mahasiswa harus menempatkan ke idealismean mereka. Dimana meraka harus menghidupkan jiwa idealismenya dan dimana mereka harus menyimpan idealismenya, bukan bertarung untuk satu dua hari, namun bertarunglah seumur hidup.

Mahasiswa bukan hanya harus memikirkan rakyat dan melupakan dirinya, dan mahasiswa pula harus memikirkan pendidikanya sehingga lengkap Tri Bakti Perguruan Tinggi yang semestinya dijalankan oleh mahasiswa, seperti akar pohon batang serta daun, nampak seperti itulah Tri Bakti Perguruan Tinggi yang di emban mahasiswa, pendidikan di akar yang menguatkan penelitian serta pengabdian yang harus dilaksanakan mahasiswa. Jangan menutup mata jangan menutup telinga. Buka selebar lebarnya mata, dengar sejelas jelasnya telinga, idealismekan dirimu sesuai situasi serta kondisi dimana waktumu berpijak.

 

Loading...


Penulis  : -
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com