• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


DPRD Beltim Kesal Pemprov Cuek terhadap Aspirasi Masyarakat

Kamis, 05 Oktober 2017 | 11:17 WIB
Aktivitas di KIP PT Kampit Tin Utama.(Foto : ist)
Loading...

Klikbabel.com,Manggar - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Belitung Timur (Beltim) kesal dengan sikap yang ditunjukkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) perihal pertambangan di Beltim. Anggota Komisi I DPRD Beltim, Koko Haryanto bahkan menyebutkan Pemprov cuek terhadap aspirasi masyarakat.

Tidak hanya dari masyarakat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Beltim pun diungkapkan Koko sudah menyatakan penolakan terhadap aktivitas penambangan yang dilakukan oleh PT Kampit Tin Utama yang beroperasi di perairan Beltim. "Ini luar biasa sikap yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Babel, apakah aspirasi masyarakat dan surat Bupati Beltim tidak berlaku, dan dianggap angin lalu?" tanyanya, Rabu (4/10/2017).

Dijelaskan Koko tindakan Pemprov terlihat dari keluarnya surat perizinan yang keluar pada 2017. Dokumen yang dikeluarkan diantaranya sertifikat clear and clean Nomor 1349/Min/11/2017 yang diberikan oleh Dirjen Minerba, Ir.Bambang Gatot Ariyono,M.M tertanggal 6 Februari 2017 yang ditetapkan di Jakarta kepada PT.Kampit Tin Utama, dengan surat Keputusan Bupati Beltim nomor 503/029/OP-L/BPPT/2012, dengan tahap Operasi Produksi, berjenis komoditas Mineral logam, timah. 

"Dari surat atau dokumen yang dilihat rata-rata semua keluarnya di tahun 2017 antara bulan Maret hingga Mei 2017. Ini artinya bahwa aspirasi masyarakat dan Pemerintahan Beltim tidak didengar bahkan terkesan cuek oleh Pemprov Babel. Mengingat penolakan masyarakat dan surat Bupati yang sudah disampaikan sejak bulan Oktober 2016 lalu," tegasnya. 

"Saya mensinyalir, kepindahan kapal dari Pering ke Mudong pada akhir tahun 2016 lalu sepertinya pindah untuk sambil menunggu surat-surat yang dikeluarkan oleh pihak Pemerintah Provinsi, setelah surat-surat keluar maka kapal tersebut pindah lagi ke perairan laut Pering pada titik IUP yang dimilikinya," ujar Koko.

Koko juga sempat menyarankan kepada Dinas Lingkungan Hidup Beltim, agar turun ke lapangan, karena air laut sangat keruh, dan bisa menyebar hingga ke laut Belitung dan juga pantai Burong Mandi, kecamatan Damar. "Tentunya ini sangat berbahaya buat area tangkap nelayan yang memang pada bulan Oktober-Desember biasanya panen cumi," tuntas Koko.

Loading...


Penulis  : Suharli
Editor    : Rangga
Sumber : klikbabel.com